Kalkulus diferensial integral dan penggunaan dalam bidang farmasi
Tugas Resume Matematika
Farmasi
Judul :Kalkulus
Differensial dan Integral
Disusun Oleh :Kelompok
3
Dosen Pengampu : Deny Sutrisno, M.Pd
1.Imelda Febrian(2248201037)
2.Juwani Legistria(2248201043)
3.Meyliza Ardianti(2248201057)
4.Suci Indah Untari(2248201056)
Kalkulus integral,
seringkali kita mengenalnya sebagai suatu cabang kalkulus yang berkaitan dengan
teori dan aplikasi integral. Secara umum kita mengenal kalkulus dalam dua
bagian yaitu kalkulus diferensial dan kalkulus integral. Sementara, kalkulus
diferensial mempelajari tentang bagaimanakah sesuatu berubah, kalkulus integral
mempelajari tentang akibat yang ditimbulkan dari perubahan tersebut. Dalam
kasus sederhana, kalkulus integral mempelajari mengenai hubungan antara dua buah
variabel jika diketahui laju perubahan dari kedua variable tersebut.
Sifat Integral
Sifat-sifat dari
integral antara lain:
∫ k . f(x)dx = k.
∫ f(x)dx
(dengan k adalah
konstanta)
∫ f(x) + g(x)dx =
∫ (x)dx + ∫ g(x)dx
∫ f(x) – g(x)dx =
∫ f(x)dx – ∫ g(x)dx
Sifat-sifat diferensial fungsi aljabar
Jika diketahui k
suatu konstanta, u = u(x), v = v(x) dan masing-masing memiliki turunan u'(x)
dan v'(x), maka berlaku:
1. f(x) = u + v,
maka f'(x) = u' + v'
2. f(x)= u - v ,
maka f'(x) = u' - v'
3. f(x) = uv, maka
f'(x) = u'v + uv'
4. f(x) = f(u),
maka f' (x) = f'(u). u'
5. f(x) = u/v,
maka f'(x) = (u'v - uv')/ v 2
CONTOH SOAL
Soal 1
Diketahui turunan
y = f(x) adalah = f ‘(x) = 2x + 3
Jika kurva y =
f(x) lewat titik (1, 6), maka tentukan persamaan kurva tersebut.
Jawab:
f ‘(x) = 2x + 3.
y = f(x) = ʃ (2x +
3) dx = x2 + 3x + c.
Kurva melalui
titik (1, 6), berarti f(1) = 6 hingga dapat di tentukan nilai c, yakni 1 + 3 +
c = 6 ↔️ c = 2.
Maka, persamaan
kurva yang dimaksud yaitu:
y = f(x) = x2 + 3x
+ 2.
Soal 2
Gradien garis
singgung kurva pada titik (x, y) ialah 2x – 7. Apabila kurva itu melewati titik
(4, –2), maka tentukanlah persamaan kurvanya.
Jawab:
f ‘(x) = = 2x – 7
y = f(x) = ʃ (2x –
7) dx = x2 – 7x + c.
Sebab kurva
melewati titik (4, –2)
maka:
f(4) = –2 ↔️ 42 –
7(4) + c = –2
–12 + c = –2
c = 10
Maka, persamaan
kurva tersebut yakni:
y = x2 – 7x + 10.
Tentukan instance fungsi berikut.
1.F (x) = (2x + 3)
5
2.F (x) = (3×2 –
2) 4
3.F (x) = (x3 +
2x) 5
Jawabannya adalah:
1.F (x) = (2x + 3) 5
Misalnya, u = 2x +
3, oleh karena itu du / dx = u ‘= 2
Y = f (x) = u5
Jadi dy / du = 5u4
F ‘(x) = dy / du.
du / dx
= 5u4. 2
= 10u4
= 10 (2x + 3) 4
2.F (x) = (3×2 – 2) 4
Sebagai contoh, u
= 3×2 – 4, oleh karena itu du / dx = u ‘= 6x
Y = f (x) = u4
Jadi dy / du = 4u3
F ‘(x) = dy / du.
du / dx
= 4u3. 6x
= 24xu3
= 24 (3×2–4) 3
3.F (x) = (x3 + 2x) 5
Sebagai contoh, u
= x3 + 2x, oleh karena itu du / dx = u ‘= 3×2 + 2
Y = f (x) = u5
Jadi dy / du = 5u4
F ‘(x) = dy / du.
du / dx
= 5u4. (3×2 + 2)
= 5 (x3 + 2x) 4. (3×2
+ 2)
Contoh penggunaan
matematika dalam farmasi
1.
Pemberian
obat yang harus melewati membran (misal: oral) dalam farmasi. untuk sampai ke
kompartemen dengan jumlah obat tersedia untuk diabsorbsi (Xa) dan tetapan
kecepatan absorbsi Ka. K= tetapan kecepatan eksresi obat dari kompartemen. B.
1. Xo KA 2 XA Kompartemen pusat K12 Kompartemen Derivat K21 K10 Model dua
kompartemen Pemberian obat dari segi farmakokinetika dapat dibagi dua, yang
pertama adalah pemberian secara langsung ke kompartemen yang mendistribusikan
obat seperti pemberian suntikan intra vena seperti pada A1 dan B1, yang kedua
adalah pemberian obat yang harus melewati membran sebelum mencapai kompartemen
pendistribusi seperti A2 dan B2. Dari model tersebut diturunkan persamaan
farmakokinetikanya : A1. dx = K. x dt x = xo e Kt x = VC C = Co e Kt A2. dx =
ka.xa K.x dt 20 X= Ka. F. Xo Ka K Ka. F. Xo C = V ( Ka K ) B.1 dxc dt ( e Kt -
e ka t ) ( e Kt - e ka t ) = k21 Xp k12 Xc k10 Xc C = A e α t - B e β t Dimana:
α + β = k12 + k21 + k10 α β = k21 k10 A= Xo ( α K 21 ) Vc (α β) B= Xo ( K 21 β
) Vc (α β) B2. dxc dt = ka XA k12 Xc k10 Xc Cc = L e α t + M e β t + N e kat L=
Ka F Xo ( K 21 α ) Vc (Ka α )( β α ) Ka F Xo ( K 21 β ) M = Vc (Ka β )(α β) N=
Ka F Xo ( K 21 Ka ) Vc (α Ka)(β Ka) 21
2.
Persamaan
Matematika Konsentrasi Obat Dan Waktu Paruh Menurut Raina Robeva seorang
professor matematika sains, secara umum dan sederhana, kecepatan dari eliminasi
obat dalam peredaran darah proporsional dengan jumlah yang ada dalam peredaran
darah saat itu. Oleh karena itu, jika C(t) adalah konsentrasi obat pada waktu
t, maka fakta bahwa obat dieliminasi dari peredaran darah pada kecepatan yang
proporsional dengan jumlah yang ada saat itu bisa dirumuskan sebagai berikut:
dc(t ) = rc ( t ), dimana r >0 dt Dan solusi dari persamaan diferensial
diatas adalah C(t) = C(0)e-rt Tanda negative pada persamaan diatas
mengindikasikan konsentrasi obat dalam darah berkurang. Nilai konstan r,
disebut kecepatan eliminasi konstan, mengontrol kecepatan obat akan dikeluarkan
dari dalam darah. Semakin besar nilai r, maka semakin cepat proses
eliminasinya. Hal ini berhubungan dekat dengan waktu-paruh dari obat, yang
didefinisikan sebagai waktu yang diperlukan untuk mengurangi konsentrasi obat
dalam darah menjadi setengahnya. Dalam konsep matematika dengan menggunakan
solusi persamaan differensial untuk konsentrasi obat di atas, maka akan didapat
waktu-paruh (t½) obat adalah: t½ = 24 (2) r